Kiki's Delivery Service

Kiki's Delivery Service ★★★★

Beberapa hari lalu aku ketemu Dina, teman sebangkuku waktu SMK sekaligus sahabat sekaligus teman diskusi apapun. Seperti biasa kami ngebahas soal apapun dan entah gimana ceritanya bisa sampai ke pembahasan film-film Ghibli. Bisa dibilang aku adalah orang yang newbie di dunia Ghibli dan ketemu Dina yang udah lama berkecimpung di dunia itu. Aku baru nonton beberapa, yaitu When Marnie Was There (2014), Grave of the Fireflies (1988), dan Ocean Waves (1993). Jumlahnya sama kayak total mantan suaminya Nikita Mirzani. Tiga biji.

Favoritnya dari Ghibli adalah film ini. Kedua adalah When Marnie Was There (2014). Sungguh nggak terduga. Aku pikir dia bakal milih Spirited Away (2001) seperti kebanyakan insan per-Ghibli-an. Dina bilang dia suka sama film ini karena transisi Kiki, si tokoh utama, yang dari anak kecil ke dewasanya itu ngena. Mencari teman dan berpetualang. Ngerantau ke kota. Setelah aku desak, akhirnya dia ngaku kalau dia bukan cuma suka, tapi juga ngerasa relate sama film ini.

Okeeee… sebagai sahabat yang baik, aku nyoba buat nonton ini. Walaupun dia nggak yakin aku bakal suka karena menurut dia itu bisa membosankan buat aku.

Pas aku nonton, aku ngerasa Dina salah. Salah besaaaar. Film ini nggak membosankan kok. Seru ngeliat Kiki, anak 13 tahun keturunan penyihir yang ‘ngerantau’ pergi ke kota besar. Di kota, dia ngebuka usaha jasa pengiriman barang. Usahanya Kiki ini kalau mau bisa bersaing banget sama JNE, TIKI, dan SiCepat. Bahkan bisa viral karena Kiki ngantarin barangnya dengan pakai sapu terbang. Gils.

Kiki tinggal bareng sama Osono, pemilik toko roti yang pernah dia tolong sebelumnya. Aku sempat mikir selain ngantar barang, ini kenapa Kiki nggak buka usaha pengantaran pesanan roti gitu, ya. Lumayan biar kayak Go-Food gitu. Tapi bahaya sih ntar ceritanya jadi dia ketemu sama customer aneh macam Siskaeee yang suka nge-prank ojol dengan bertindak vulg---

Oke lanjut. Nah jadi dengan pekerjaan dan kehidupan barunya di kota orang, Kiki banyak ngalamin pengalaman-pengalaman baru. Ketemu orang-orang baru juga. Plus ‘ketemu’ pribadinya yang baru, yaitu sebagai orang yang mendewasa dan percaya diri.

Aku senyam-senyum usil selama nontonnya karena ngerasa jadi tau ini keinginan Dina sang introvert yang jarang cerita dia maunya apa. Aku jadi ingat dulu Dina keliatan enggan berteman karena sikap tertutupnya itu. Dina orangnya asyik, tapi asyiknya itu jaraaaaaang banget diketahui orang saking dia tertutupnya. Bahkan dia suka marah-marah untuk alasan yang sebenarnya absurd untuk dia marah. Aku ngakak pas ingat dia marah karena badmood lapar, terus pas aku deketin dia ngomong,

"Aku lagi malas liat mukamu. Aku tuh lagi lapar nah, Cha!"

Maksudnya apa coba huhuhu.

Kiki adalah Dina, makanya Dina punya pemikiran kalau dia relate sama film ini. Sedangkan aku punya pemikiran beda, kalau boleh bilang film ini relate juga sama aku. Menurutku film ini tentang... kejenuhan. Atau mendadak hilang kemampuan. Kiki tiba-tiba hilang hilang kemampuan buat terbang pakai sapu. Terus dia curhat sama mbak-mbak pelukis, dan dapat tanggapan kalau mbak pelukis juga pernah ngalamin itu.

Satu-satunya cara mengembalikannya adalah berhenti aja dulu. Terus pergi jalan-jalan, makan, tidur siang dan bermalas-malasan. Nanti juga bakal balik lagi kemampuan dan kemauan buat terbang. Karena itu anugerah dari Tuhan yang udah dikasih.

Aku jadi ingat writer's block. Aku juga pernah ngalamin itu, yaitu mendadak nge-blank nggak bisa nulis entah kenapa. Terus aku ngerasain beberapa hari ini sebelum ketemu film ini. Mendadak nggak bisa nonton. Bawaannya semua film yang dipilih buat ditonton itu nggak bisa bikin aku larut di dalamnya. Plus udah empat hari ini aku nggak main Twitter karena deactive akun Twitter. Bawaannya jenuh dan muak sama twit sendiri. Aku ngerasa kehilangan kemampuan buat ngetwit hal-hal yang menyenangkan buatku dan menyenangkan buat mutual-ku. Aku kehilangan kemauan buat sharing apa yang aku rasakan.

Hufh.

Setelah nonton ini, aku yakin ini cuma sementara dan bener aja aku berhenti buat main Twitter dulu. Nggak papa kalau aku aneh kayak gini. Nggak papa kalau aku harus ketinggalan berita macam kelanjutan RUU Ketahanan Keluarga, Parasite (2019) ada versi Black and White-nya, dan ada dua ABG diciduk polisi karena pas temennya bikin TikTok, mereka enak-enak dengan posisi missionary.

Nggak papa, Icha. Istirahat aja dulu.