Apprentice ★★★½

Waktu Singapura hendak menyerahkan film ini untuk seleksi Oscar aku penasaran.

Manakala Aiman dipindahtugaskan dari militer ke penjara, dia seperti mengulang bab kelam masa lalunya. Bapaknya pernah dihukum gantung di penjara itu. Bukan hanya pada ruangan-penjara sebagai memori pahit, tapi memori manusianya masih eksis di sana, selama 30 tahun bertugas. Pakcik Rahim si tukang jagal—dia pula lah yang mengeksekusi bapak Aiman. Cerita masih blur dan kabur, mau ke mana hawa psikologi film dan karakter Apprentice ini. Balas dendam, ranah hukum menjadi terlalu pribadi, napak tilas, mengimunkan diri sendiri dari luka, semua seperti diaduk dalam satu cangkir dan kita tidak tahu rasa apa yang dominan.

Namun, rasa yang sudah solid—meski tidak punya jejak rasa kuat—dibuyarkan dengan dialog Aiman dan Rahman di ujung cerita ketika Rahman tahu siapa Aiman sebenarnya. Kesannya adegan sinetron banget (verbal banget) dialog itu, padahal ya film ini kerjasama Jerman, Perancis, Hong Kong, dan Qatar. Juga pada fragmen motivasi bapaknya Aiman memutilasi sahabatnya itu terasa goyang. Aiman jadi budak badung karena peristiwa itu pun terkesan tipikal. Terpidana mati, Randy, sebenarnya punya potensi setajam sembilu bagi penonton meski kurang dikembangkan. Tapi baguslah, drama seperti itu jatuhnya akan klise kalau terlalu berkembang di filmnya.

Apa pun, Apprentice meremangkan bulu roma ketika Rahim mendeskripsikan cara mengeksekusi terpidana, termasuk cara gambar bersuara, dan cara suara melukis gambarnya yang lumayan angker tentang penjara dan hukuman mati.