Thappad

Thappad ★★★★½

[Spoiler rate: 30%]

Begitu alarm pagi berbunyi, secara rutin Amrita (Taapsee Pannu) akan beranjak dari tempat tidur. Mengambil koran dan 2 botol susu segar di depan itu dan mulai memasak chai –teh susu khas India untuk dia nikmati sembari menyiram tanaman di balkon atas atau berbincang dengan tetangga sebelah.

Sejam kemudian, alarm suaminya yang akan berbunyi. Dengan penuh cinta, dia akan membawakan nampan berisi minuman ke kamar, meletakkannya di meja kecil, membangunkan suaminya dan menyiapkan segala perlengkapan untuk bekerja.

Walau tentu saja bukan pasangan yang sempurna, Amrita dan Vikram (Pavail Gulati) adalah pasangan yang serasi. Amrita memang tidak jago memasak. Tapi sebagai gantinya ia telaten memantau kesehatan ibu mertua yang tinggal satu rumah dengan mereka. Setiap pagi, dia akan mengecek gula darah dan memastikan semua makanan yang dikonsumsi ibu mertuanya tidak mengandung gula berlebihan.

Ibu mertuanya pun sayang kepadanya. Perkara tidak begitu jago memasak atau beberes rumah toh sudah ditangani oleh Sunita (Geetika Vidya Ohlyan), asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Tak heran jika Sunita pun dengan leluasa akan bercerita perlakuan suaminya yang kerap main tangan. Tamparan dan pukulan menjadi hal biasa yang ia dapatkan dan kadang memunculkan keperihatinan dari Amrita dan ibu mertuanya.

Amrita bersyukur hubungan ia dan Vikram sangat baik. Keromantisan yang mereka perlihatkan di hadapan keluarga dan kerabat bukanlah satu yang dibuat-buat. Di kantor pun, karir Vikram melesat. Selama tiga tahun dia berjuang untuk mendapatkan kepercayaan lebih tinggi dari perusahaan tempat ia bekerja.

Dia mengincar posisi pimpinan di kantor cabang yang ada di London. Dan, ketika dia berhasil mendapatannya, bukan main senangnya keluarga besar mereka.

“Kau harus mempersiapkan makanan untuk 40 orang, aku akan mengundang keluarga dan kerabat untuk merayakannya,” ujar Vikram lewat sambungan telepon.

Sayang, saat pesta berlangsung malam harinya, di tengah kebahagiaan itu Vikram mendapatkan telepon bahwa ia tak jadi dikirim ke London. Jelas saja hal itu membuatnya emosi. Dengan cepat ia menghampiri koleganya yang kebetulan hadir dalam pesta dan pertengkaran tak dapat dielakkan.

“Aku tahu ini semua karenamu. Kau iri kepadaku karena mendapatkan posisi itu, bukan?” teriak Vikram kepada salah satu rekan kerjanya.

Amrita berusaha melerai. Namun, Vikram sangat emosional dan seketika sebuah tamparan melayang ke pipi istrinya. Jelas itu satu hal yang menyakitkan. Selama ini, tak pernah sekali pun Vikram bertindak kasar. Namun, sekalinya terjadi, itu disaksikan oleh puluhan pasang mata, termasuk dari orang tua masing-masing dari mereka.

Pesta kemudian dibubarkan. Ayah Amrita –Sachin (Kumud Mishra) dan ibunya –Sandhya (Ratna Pathak Shah), pulang dengan perasaan yang berkecamuk. Mereka kaget menantu kesayangan mereka bisa berbuat seperti itu. Namun, mereka tak banyak bicara. Mereka pulang dengan meninggalkan harapan bahwa hubungan anak dan menantunya akan baik-baik saja.

SEBUAH TAMPARAN YANG MENGUBAH SEGALANYA

Keesokan harinya Vikram berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Dengan memeluk Amrita, dia berceloteh banyak hal dan memohon dukungan dengan kabar buruk yang diterimanya dari perusahaan tadi malam.

Amrita menyikapinya dengan perasaan tak menentu. Dia masih melakukan semua aktivitas harian. Membuat chai, menyiapkan seragam kerja dan bekal untuk Vikram, termasuk memantau kesehatan ibu mertuanya –Sulakshana (Tanvi Azmi).

Namun, semakin dia berusaha untuk move on¸semakin berkecampuk juga apa yang ada di dalam hatinya. Puncaknya, dia meminta izin kepada Vikram untuk pulang ke rumah orang tuanya dalam waktu beberapa hari.

“Aku perlu menenangkan diri,” ujarnya.

Vikram awalnya protes, namun kemudian membiarkan. Tak sampai berlarut, Vikram berusaha menjemput namun sayangnya ditolak.

Ada banyak dialog yang ia lakukan bersama orang tua dan adiknya. Ia bertanya kepada ibunya, apakah pernah ayahnya memukul. Ia juga berusaha menerima saran adik lelakinya –Karan (Ankur Rathee) untuk segera berbaikan dengan Vikram.

“Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan, hidup harus tetap maju,” ujar Karan kepada kakaknya itu.

Namun, alih-alih pulang ke rumah, Amrita mengambil sebuah keputusan besar. Dia menemui Netra (Maya Sarao), seroang pengacara terkenal yang biasa menangani kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dan, Amrita minta bantuan Netra untuk memproses perceraian.

“Kau yakin akan mengambil keputusan ini hanya karena sebuah tamparan?” tanya Netra kepada Amrita.

“Every relationship is flawed. So best mend it,” ujar Netra lagi. Namun, kalimat itu langsung dijawab Amrita, “if you need to mend it, it means it’s broken.”

​Dan, rupanya keputusan Amrita sudah bulat. Semua nasihat yang ia dapatkan dari mertua, orang tua, saudara bahkan pengacaranya tidak menyurutkan tekatnya untuk berpisah. Walaupun, di banyak adegan, saya sebagai penonton diperlihatkan kegamangan-kegamangan yang dirasakan olehnya.

Apakah pada akhirnya pasangan yang seyogyanya saling mencintai ini benar-benar akan berpisah?

* * *

Thappad yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti tamparan ini adalah salah satu film yang mengangkat isu penting tentang KDRT yang banyak terjadi di kehidupan kita, tak hanya di India namun juga di Indonesia.

Sutradara Anubhav Sinha dengan baik memperlihatkan beragam hubungan suami istri lewat film ini. Dari hubungan yang harmonis tapi kemudian memanas dari tokoh Vikram dan Amrita, hubungan suami istri yang tidak sehat dari kehidupan Sunita, hubungan yang dingin namun tetap dipertahankan dari pasangan ayah dan ibunya Vikram, hingga hubungan yang tampak ideal namun menyimpan kebusukan dari pasangan pengacara Netra dan suaminya.

Sebagai penonton saya diperlihatkan begitu banyak ragam tabiat dan hubungan antar manusia dalam satu waktu.

Dari segi penonton juga saya diliputi kegamangan. Di satu sisi, saya coba memahami rasa sakit dan kecewa yang dialami oleh Amrita. Terlebih, akting Taapsee Pannu (dan juga para pemain lain) betul-betul juara. Namun, di sisi lain bukankah dalam pernikahan akan selalu ada kerikil tajam dan tidak semua kerikil itu diinjak terus menerus melainkan dapat disingkirkan, bukan?

Hebatnya, semua pemikiran itu dapat dideliveri dengan baik oleh sutradara dari tokoh-tokoh yang berada di sekitar Amrita. Walau pada akhirnya, kita tak akan pernah dapat memahami jalan hidup seseorang sebab kita tidak menjalankan hidup sebagaimana yang ia (Amrita) lakukan. Persis yang dibilang Harper Lee, “you never really understand a person until you consider things from his point of view. Until you climb inside of his skin and walk around in it.”

Dan itu dia, salah satu kehebatan skenario yang ditulis oleh Mrunmayee Lagoo (yang idenya dari Anubhav Sinha terinspirasi dari banyaknya kejadian nyata di sekitar), bahwa walaupun apa yang dilakukan para tokoh di film ini mungkin tak ideal dari kacamata kita, namun pada akhirnya kita akan dibuat untuk memahami bahwa satu tindakan kecil dapat berdampak buruk dan panjang.

Sehingga, sudah sepatutnya sebelum melakukan sesuatu, pikirkan secara matang dan jangan sampai terbawa emosi. Ya, ini semacam self reminder juga bagi saya dalam menjalankan hidup.

Terakhir, walaupun poster ini terasa begitu intimidatif (sebab filmnya walaupun sedih namun juga hangat), secara keseluruhan film Thappad ini adalah salah satu sajian menawan dari Bollywood. Bagi yang tertarik menyaksikan, bisa dicek di Prime Video, ya!

Skor 9,4/10

Haryadi liked this review