• Satan's Slaves 2: Communion

    Satan's Slaves 2: Communion

    ★★★

    Cukup dilema dengan sequel ini. Di beberapa sisi jelas terasa ada sebuah upgrade. Tapi secara keseluruhan menurutku malah belum. 

    Horornya memang makin bringas. Jumpscare lebih banyak (walau buatku expected semua). Kematian menjadi hal yang elastis di sini, ga tanggung-tanggung. Kematiannya juga lebih brutal. Eksekusi drawing and quartering ke si bapak itu paling brutal, dan memang mengindikasikan juga dosa kelam si bapak. 

    Ngomongin tentang bapak, aku cukup kontradiktif dengan twist yang ‘kayaknya’ cukup sensitif dibawakan. Ya, petrus. Aku juga ga expect…

  • The Valet

    The Valet

    ★★★

    Dengan formula generic dan predictable, tapi malah rom-com The Valet ini sudah bisa menghibur walau masih dalam kutip cukup aja, gak lebih. 

    Yang menarik buatku bukan konsep Valet di sini, tapi lebih ke keluarga latin dan teman-teman dari Antonio. Juga sisi katakter Antonio yang memang dibuat kental dengan ‘latin’.

  • Kukira Kau Rumah

    Kukira Kau Rumah

    Baru nonton di Disney+. Cukup bingung marketing film ini, sampe banyak orang yang memuji film ini, yang bahkan tidak bisa cukup ditelan secara nalar. Iya, orang-orang di sosial media cukup kagum ‘katanya’ dengan film ini. 

    Nyatanya memang belum rapih tapi arah filmnya udah lumayan tepat. Dengan isu mental health bipolar yang dibawakan cukup tepat dengan zaman sekarang ini. Tapi malah kebanyakan menye-menye dan hiruk piruk perjalanan si pengidap bipolar ini masih kurang ke-eksplor aja. 

    Padahal, karakter Kala memang paling menonjol.…

  • Police Story

    Police Story

    ★★★★

    Sosok Jackie Chan yang aku tau dulu pas bocil itu petarung hebat. Hingga nonton ulang sekarang, malah semakin menikmati filmnya. Komedi-komedi khas Jackie Chan-nya cukup kena. Apalagi pas bagian May dan Selina di apartemen hahaha lucu sih. 

    Secara kombat memang sudah cukup baik pada masa itu. Scene tabrakan, mobil hancur, hingga puncak pertarungan di mol epik sih.

  • Ghost Writer

    Ghost Writer

    ★★★½

    Nyoba nonton lagi, karena sequelnya udah mau rilis bulan juli. 
    Bene sebagai debut menjadi sutradara cukup menjanjikan, dalam arti buatku penonton cukup puas aja rasanya. 

    Konsep horor dibalut komedinya ini cukup kena. Bahkan beberapa adegan horor karaktet Bening cukup mencekam. Tatjana dan Ge cukup solid dengan kemistri mereka berdua. 

    Komedinya pas, ga dipaksakan, dan cukup lucu untuk sekedar aja. Mataju ga bisa berpaling melihat mata Tatjana, hem gokil.

  • Story of Dinda: Second Chance of Happiness

    Story of Dinda: Second Chance of Happiness

    Too much spin off.

  • Missing Home

    Missing Home

    ★★★★½

    POV-ku sebagai orang batak yang menonton film ini sangat menyenangkan dan memuaskan. Mau coba bahas bagian-bagian yang menurutku cukup krusial. 

    Dari sisi cerita Bapak yang ga akrab atau gengsi dengan anak laki-laki itu menurutku memang udah lumrah sekali sepenglihatanku di keluarga batak dan bahkan di luar batak sekalipun. Premis ini yang membuat aku semakin yakin tanpa mikir, kok relate ya. 

    Karakter 4 anak dengan 2 orang tua ini sangat-sangat kuat sekali. Domu, Sarma, Gabe, dan Sahat sangat mewakili peran seorang…

  • RRR

    RRR

    ★★★★½

    Aduhh kacau sih, gilaaaa. Terakhir nonton film India kayaknya Dangal atau White Tiger. RRR dengan cerita historical-nya namun tetap dengan garapan film khas india yang kental. Pacenya juga lumayang kenceng, adrenalin rush ga main-main. 

    Padet aja rasanya, urutan story telling-nya mantep. Production value-nya bukan maennn. Scene awal Raju sendiri lawan ratusan orang itu aja udah greget sebagai pembuka. CGI-nya okelah.

    Kerasa dramatisasinya berlebihan? mungkin iya, tapi memang ntah kenapa merasa itu fine-fine aja. Aduh luar biasalah ini pokoknya. 
    RRR is f*ckin gRRReatttt.

  • Yuni

    Yuni

    ★★★★

    Salah satu topik yang sering aku bahas dengan teman-teman, entah saat nongkrong atau saat senggang tengah malam. Bahas pernikahan dan segala yang berkaitan dengannya. 

    Masalah usia pernikahan, uang pemberian/uang kaget/sinamot/dll, dan masih banyak lagi. Ini juga yang dibahas di film Yuni ini. Aku malah nangkap satu pihak lebih punya kendali akan suatu pernikahan. 

    Yuni dengan puisi akhir di bulan Juni.

  • Teka-Teki Tika

    Teka-Teki Tika

    Secara keseluruhan memang ini kayaknya sebuah penurunan dari karya-karya Ernest sebelumnya. Karakter dan naskahnya terutama. Semua karakter ini entah kenapa kaku sekali semuanya. Selipan jokesnya jadi terkesan maksa.

    Buatku ga ada yang menarik sih dari film ini. Ditambah lagi masih banyak plot hole-nya. Apalagi di bagian twist endingnya yang sangat wadidawwww.

  • Fiction.

    Fiction.

    ★★★★

    Cukup suka dengan pembawaan narasi Fiksi ini. Bagaimana Mia yang menurutku ingin membantu cerita yang dibuat oleh Bari menjadi lebih menusuk dengan kesan ‘fiksi-nya’. 

    Dengan alur yang cukup lambat memang cukup berat buatku menyelesaikannya sampai akhir. Tapi memang banyak sisi yang membuat produksinya semakin menarik.

  • Sherina's Adventure

    Sherina's Adventure

    ★★★★

    “Dia pikir dia yang paling hebat???”