Gundala ★★½

Awalnya keren.
Tengahnya membosankan.
Akhirnya juga membosankan.

Gundala seharusnya belajar dari John Wick bagaimana world-building, membangun emosi, dan bercerita secara efektif.

Gundala dibuka dengan sangat bagus, menampilkan masa kecil jagoan kita, Sancaka. Dengan gambar yang indah, adegan-adegan emosional, dan karakter yang kuat. Sayangnya sampai tengah-tengah ketika Sancaka sudah dewasa, filmnya menjadi tidak fokus dan berantakan menuturkan cerita.

Film John Wick yang pertama bisa begitu sukses karena premis cerita yang sangat sederhana dan memuaskan secara emosional: Anjingnya dibunuh, jadinya John Wick, seorang pensiunan pembunuh profesional, membalas membunuh satu geng mafia. Penonton bisa merasakan kepuasan saat setiap kali John Wick membunuh musuh-musuhnya. Selain itu caranya memperkenalkan dunia bawah tanah para assasin pada film pertama dilakukan dengan efektif dan tidak berlebihan. Pada film kedua dan ketiga baru dunia itu diperluas dan dieksplorasi lebih dalam.

Berkebalikan dengan itu, Gundala mengidap penyakit film-film ambisius yang berusaha membangun universe, menampilkan sebanyak-banyaknya tokoh dan memaksakan cerita dengan skala besar. Tokoh-tokoh supervillain ditampilkan semua untuk menghajar Gundala, alih-alih keren, mereka malah tampak cupu dan lemah.

Gundala memaksakan cerita berskala besar melibatkan DPR dan virus yang menyebar ke seluruh Indonesia. Akhirnya cerita utamanya tidak ada hubungannya secara pribadi dengan karakter utamanya, Sancaka. Gundala jadi tokoh sampingan di filmnya sendiri. Filmnya malah berubah fokus kepada para anggota DPR. Lah? Kita ini mau nonton film superhero, woi! Apa kerennya anggota DPR?! Nggak ada keren-kerennya dari anggota DPR!

Padahal ceritanya bisa dibuat lebih personal, misalnya fokus cerita filmnya hanya melawan preman pasar. Lalu pada akhirnya bisa ada teaser sedikit kalau ternyata preman pasar itu digerakkan oleh jaringan mafia besar. Atau jangan-jangan jaringan mafia besar itu juga turut andil dalam pembunuhan orang tua Sancaka.

Dengan begitu tidak akan ada banyak tokoh yang tidak ada hubungannya pada film ini dan karakter para tokoh utama bisa dibangun lebih dalam lagi.

(SPOILER!)
Tokoh penjahat utama, Pengkor, juga kurang mengancam dan tidak terasa pintar. Pengkor adalah mafia penguasa yang tidak memiliki kekuatan super. Seharusnya dia bisa mengalahkan Gundala dengan intrik, koneksinya dengan pemerintah yang kuat, dan strategi-strategi keren lainnya. Malah dengan gobloknya, dia sendiri datang ke markas Gundala, mengajak berantem. Woi! Namamu itu Pengkor! Jalanmu miring-miring! Kamu itu cacat! Ngapain datang ke markasnya Gundala ngajak berantem, ya mati lah goblok!

Ya begitulah, saya tidak menyebutkan bagusnya film ini karena ada banyak sekali hal yang bagus.

Winner liked these reviews